Selasa, 20 Agustus 2013

Sir Alex Ferguson : A Level-5 Leader


Berita pensiunnya Alex Ferguson dari kursi kepelatihan Manchester United pada awal Mei 2013 menjadi bahan perbincangan yang sungguh menarik. Kebetulan, secara pribadi saya adalah penggemar sepak-bola (khususnya Barclays Premier League), dan fans setia tim berjuluk Setan Merah alias Manchester United. Hanya beberapa saat berselang setelah deklarasi pengunduran diri Sir Alex, saya dan teman-temanpun berdiskusi – sambil setengah bertaruh – tentang suksesor Opa keturunan Skotlandia yang sudah berumur 71 tahun. Beberapa nama sempat muncul ke permukaan, dari sosok seperti Jose Mourinho, Manuel Pellegrini, Juergen Klopp, Ole Gunnar Soelskjaer hingga David Moyes. Namun, di dalam diskusi kami, nama-nama tersebut mengerucut kepada dua sosok yakni : sang special-one Mr. Mou dan si scottish Moyes. Teman saya yakin bahwa Mr. Mou dengan kecerdasan strateginya yang di atas rata-rata dan kharisma kepelatihan yang luar-biasa akan mendarat di Old Trafford menggantikan Sir Alex. Sebaliknya, analisa dan intuisi saya mengatakan bahwa pembesut tim papan-tengah Everton, David Moyes lah yang akan menduduki kursi panas kepelatihan memimpin Ryan Giggs dkk.

Terbukti, beberapa hari kemudian, manajemen Manchester United akhirnya menetapkan Moyes sebagai pengganti Sir Alex. Sebagian orang mungkin bertanya masygul, bagaimana mungkin seorang Moyes yang selama karir kepelatihannya (khususnya di Everton) tak pernah sekalipun mengangkat trofi kejuaraan, terpilih menjadi suksesor ? Bandingkan dengan Sir Alex, yang selama melatih MU sejak 1986, telah mengoleksi 38 trofi kejuaraan besar! Namun, seorang legenda yang juga anggota direksi MU, Sir Bobby Charlton, menyebutkan bahwa pertimbangan pengembangan tim secara “jangka-panjang”lah yang membuat Moyes terpilih sebagai pelatih. Seorang Mourinho boleh jadi jauh lebih hebat dan kharismatis dibandingkan dengan Moyes, namun “pertimbangan jangka-panjang”lah yang membuat pria Portugal tersebut tak dipilih untuk membesut MU.

Membangun organisasi (termasuk membangun sebuah tim) pada dasarnya adalah membangun institusi. Guru saya selalu mengatakan, jika diibaratkan dengan olah-raga lari, maka perkara “organization building” (pengembangan organisasi)  ibarat olah-raga lari maraton (yang berjarak tempuh jauh;  42, 195 km), bukannya lari sprint (yang berjarak pendek ratusan meter). Dengan demikian, dalam hal ini “kecepatan” saja sangatlah tidak cukup. Lebih dari kecepatan, yang dibutuhkan adalah “kekuatan dan daya tahan” secara jangka-panjang. Demikian pula, membangun kehebatan organisasi pada esensinya adalah membangun kejayaan institusi (lembaga), bukan membangun kedigdayaan individu (perorangan). Dari sisi inilah, kita bisa melihat mengapa akhirnya David Moyes yang dipilih menjadi pelatih baru MU, bukannya Mourinho.  Pengalaman kepelatihan Mourinho di beberapa tempat, dari Porto, Chelsea, Inter Milan dan Real Madrid, acapkali menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah seorang “sprinter” yang terampil meloncat dengan positioning diri sebagai “superstar individual”. Perasaan superioritas individual inilah yang membuatnya nyaman-nyaman saja mengklaim dirinya sebagai “the special one”.

Sehebat-hebatnya seorang Sir Alex, dengan setumpuk kekuasaan yang dimilikinya dan sederet prestasi yang diraihnya, ia tak pernah mendeklarasikan diri sebagai “the great man of Manchester United”. Walaupun ia adalah sosok yang paling berjasa menjadikan Manchester United sebagai klub besar yang mendunia, Sir Alex toh tetap menyadari dirinya sebagai bagian dari organisasi tersebut, bukan “pemilik atau penguasa” yang berada “di atas” organisasi. Bahkan di dalam pidato perpisahannya di depan puluhan ribu pendukung Setan Merah di stadion Old Trafford, Sir Alex justru memberikan pesan utama agar para fans klub tersebut memberikan dukungan yang sepenuh-penuhnya kepada David Moyes , sang suksesor. Betapa yang bersangkutan sungguh-sungguh mengutamakan kelanggengan organisasi, di atas kehebatan dirinya sendiri.

Fenomena Sir Alex mengingatkan saya pada teori Level-5 Leadership yang digagas oleh Jim Collins  dalam bukunya Good to Great (2001).  Bagi Collins, pemimpin level-5 adalah derajat praksis kepemimpinan organisasi yang paling tinggi, yang berhasil memadukan dua hal yang sekilas terlihat paradoksal, yakni : ambisi dan kerendahan hati. Kita mungkin bertanya, apakah mungkin orang yang ambisius, bisa sekaligus bersikap rendah hati? Sebaliknya pula, apakah mungkin orang yang rendah hati, sekaligus memiliki ambisi tinggi? Namun, studi Collins menunjukkan bahwa kedua hal tersebut dapat dipadukan dalam diri seorang pemimpin, persisnya pemimpin kelas wahid alias level-5. Bagi pemimpin kelas ini, ambisi yang disimpannya tertuju kepada kejayaan organisasi, bukannya demi kemuliaan diri sendiri. Sementara itu, kerendahan hatinya terpantul dari sikapnya yang tetap menjadikan dirinya sebagai “bagian dari organisasi”, bukannya the special-one yang lebih hebat dan mengatasi reputasi organisasi.


Sir Alex, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dapat digolongkan sebagai pemimpin level-5 di dunia organisasi olah-raga. Mewakili fans Manchester United (di Indonesia), perkenankan saya untuk mengucapkan “Thank you Sir Alex. Your organization’s mission has been accomplished!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar