Pemilu memang masih baru akan berlangsung satu tahun lagi. Namun jauh-jauh hari, dan terutama saat-saat sekarang ini, para kandidat yang merasa dirinya pantas menjadi pemimpin Indonesia di masa depan sudah giat mengkampanyekan dirinya. Partai-partai politik hingga kelompok masa juga mulai mengelus jagoannya masing-masing, entah secara malu-malu ataupun terbuka. Bahkan sudah ada partai yang secara resmi mendeklarasikan nama calon presiden dan wakil presiden, lengkap dengan tayangan langsung di stasiun televisi tertentu.
Suka tidak suka, lebih banyak orang yang melihat posisi kepemimpinan sebagai sebuah peluang, daripada amanah. Sebagai suatu peluang, kepemimpinan harus diperjuangkan dan diperebutkan, bahkan terkadang dengan mengorbankan nilai moral dan aturan hukum yang berlaku. Bermacam siasat ditempuh, agar calon yang diusungnya dapat tampil sebagai pemenang. Demikian pula, slogan dan janji-janji kampanye juga bertebaran sana sini laksana balon busa yang terbang kesana kemari. Dan sudah menjadi rahasia umum, lalu-lintas setoran uang menjadi bumbu yang tak terpisahkan dari menu praktek politik, yang sehari-hari dikenal dengan sebutan money-politics. Atas nama keinginan menjadi seorang pemimpin, orang rela melakukan hal apapun, dengan cara apapun, bahkan harus mengorbankan seseorang sekalipun.
Namun, sebenarnya siapakah sang pemimpin itu? Ini pertanyaan yang sangat sederhana, sekaligus juga paling mendasar dalam ilmu manajemen dan kepemimpinan. Setiap kajian dan buku tentunya memiliki definisi dan kriteria yang berbeda-beda. Dengan demikian jawaban terhadap pertanyaan tersebut, sangat tergantung kepada buku yang kita baca. Tulisan ini juga tak bermaksud untuk membedah, apalagi mengkonfrontasikan berbagai definisi kepemimpinan yang dirumuskan oleh para pakar. Tulisan ini hanya bermaksud mengajak kita untuk merenungkan secara mendalam esensi kepemimpinan, hal yang jauh lebih penting dari urusan motif, praktek dan gaya kepemimpinan.
Sejatinya, sejarah mencatat begitu banyak cerita gelap tentang para pemimpin yang dianggap sukses pada awalnya, namun berujung tragis pada akhir masa kepemimpinannya. Tanpa perlu menoleh ke belahan bumi lain pun, kita tahu ada dua presiden kita yang menutup masa kepemimpinannya dan mengakhiri hari tuanya dengan suasana yang tak nyaman. Bung Karno harus menyerahkan kekuasaannya pada tahun 1967, setelah MPRS menolak pidato pertanggung-jawabannya sebagai presiden, dan mengakhiri hidupnya dengan status sebagai tahanan politik. Pak Harto pun akhirnya musti mengundurkan diri dari jabatannya sebagai pemimpin negara ini pada tahun 1998, setelah menghadapi demonstrasi mahasiswa yang begitu masif dan ditinggalkan oleh sebagian menteri-menteri kabinetnya, dan menjalani masa tuanya dalam keadaan sakit stroke di tengah sorotan publik akan praktek KKN dan pelanggaran HAM di era Orde Baru. Mereka-mereka adalah pemimpin yang begitu kharismatik dan memanen pujian pada awal masa berkuasa, namun harus mengisi akhir hidupnya secara tragis dan memilukan.
Orang bijak dari timur yang hidup sebelum zaman Masehi, Lao Tzu, sejak dahulu kala sudah memberikan petuah kepemimpinan nan arif. Katanya, “seorang pemimpin bisa dibilang paling baik bila pengikutnya hampir tidak menyadari kehadirannya. Pemimpin bisa kita anggap cukup baik kalau para pengikutnya patuh dan memujanya. Adapun pemimpin bisa kita anggap jelek, jika para pengikutnya justru membenci dan bahkan mengecamnya”. Pesan ini mengandung makna bahwa pada akhirnya peran kepemimpinan tak lebih dari sekadar “kurir”, yang mengantar orang-orang yang dipimpinnya untuk menemukan jalan terbaik dan menunjukkan kinerja terbaik bagi dirinya sendiri. Kemuliaan seorang pemimpin justru terpantul dalam bentuk kehebatan dari orang-orang ataupun kelompok yang dipimpinnya, bukannya kegemilangan dirinya sendiri. Dengan kata lain, seorang pemimpin harus rela “menenggelamkan” kehebatannya di balik kehebatan orang-orang ataupun kelompok yang dipimpinnya.
Demikianlah hakekat kehebatan yang sejati, yakni saat eksistensi pribadi sang pemimpin seolah-olah lenyap di tengah-tengah pencapaian dan prestasi dari kawanan yang dipimpinnya. Seorang pemimpin sejati selalu menempatkan kepentingan dan kehebatan orang-orang yang dipimpinnya di atas kepentingan dan kehebatan dirinya sendiri. Seperti kata Maya Angelou - seorang pejuang multi-talenta dan salah satu “guru bangsa” Amerika saat ini -, “a leader sees greatness in other people. You can’t be much of a leader if all you see is yourself”.
Pemimpin sejati berjuang untuk kemaslahatan bersama dan kemuliaan manusia di sekitarnya. Tanpa semangat untuk memperkaya diri dan membangun reputasi pribadi, mereka justru tak ragu untuk memberikan sebanyak-banyaknya dari dirinya sendiri kepada orang-orang yang dipimpinnya. Seperti seorang ibu, mereka rela memberi tanpa berharap mendapatkan balas jasa kembali.
Namun, sudah menjadi hukum alam pula, bahwa “when you give the best out of yourself, you will get the best out of others”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar